KEADILAN SEOARANG AMIR

CahayaFM- Nagrak, Aslam bin Abdul Aziz berkata, “Aku mendengar saudaraku yang bernama Hasyim berkata, “Pada suatu hari, aku duduk di hadapan amir. Saat itu, datanglah putranya yang bernama Badrun Ash-Shaqlabi. Badrun menangis di hadapan amir. “Mengapa kamu menangis?” tanya amir kepada putranya.
“Ayah, sejenak aku bersama qadhi. Dia memperlakukanku dengan tidak lazim, sehingga aku berpikir, andai saja aku tidak berada di dekatnya saat itu,” jawab sang putra.
“Apakah yang dilakukan qadhi?” tanya amir.

“Seorang mengklaim rumah tempat tinggalku sebagai miliknya. Aku mengabaikan klaim itu, padahal saat itu ia datang dengan membawa surat yang diberi stempel qadhi. Saat itu, aku sedang menyelesaikan perintah Ayah. Karena aku sedang melaksanakan tugas Ayah, aku pun berkata kepada wanita itu, “Hari ini, aku sibuk mengerjakan tugas amir semoga Allah memuliakannya. Aku akan menulis surat kepada qadhi untuk menanggapi urusanmu. Aku ingin tahu, apa yang diinginkan oleh beliau”.
Kemudian, aku berjalan menuju istana. Aku melewati pintu jembatan, dan saat itulah beberapa utusan qadhi bergegas menuju ke arahku. Mereka memukul pundakku, dan memaksaku menemui qadhi.

Aku temui qadhi di masjid jami’. Rupanya dia sedang marah besar. Ia membentakku, dan mengatakan,” Kamu membangkang padaku. Kamu tidak mematuhi perintah dalam surat yang dibubuhi stempel dariku”.
Aku pun menjawab, “Aku tidak melakukan apa yang Tuan dutuhkan itu. Wanita itu mengetahui alasanku menunda perkara ini”.
Qadhi berkata, “Demi Tuhan yang menguasai masjid ini, jika benar kamu telah membangkang padaku, maka aku akan memberimu pelajaran”. Kemudian qadhi melanjutkan ucapannya, “Berbuatlah adil kepada wanita ini!” Tatkala aku sadari kelemahan posisiku, maka aku pun menerima klaim wanita itu, dan aku pun akan selamat dari tuntutan hukum. Menurut pendapat ayah, sudah benarkan apa yang dilakukan qadhi terhadapku, padahal aku bekerja untuk membantu ayah, yang menjabat sebagai amir?”

Mendengar penjelasan putranya, maka berubahlah wajar Amir Muhammad. Lalu ia berkata, “Wahai Badrun, sebagaimana kamu tahu, kamu adalah putraku. Mintalah pada Ayah segala hal yang kamu butuhkan, tapi jangan meminta Ayah membatalkan apa yang telah ditetapkan oleh qadhi. Sesungguhnya pintu ini telah aku tutup. Qadhi lebih memahami apa yang diputuskannya”.
Mendengar ucapan ayahnya itu, Badrun menyeka air matanya. Ia pun lalu pergi.

(Sumber : Abu Al-Hasan Al-Maliqi, Tarikh Qudhat Al-Andalus)

Find us on
Frequensi                 : 105.3 FM
Email                        : radiocahayaindah@gmail.com
Website                   : http://www.cahayafm.com
SMS & Whatsapp   : http://wa.me/+62816228904
No Telp                   : (0266) 6545666/+628111177035

Streaming