ILMU DAN IBADAH

Diriwayatkan orang-orang terdahulu, bahwa seseorang pernah berkata, “Wahai Abu al-Walid, jika engkau memang Abu al-Walid, tentulah akan berhati-hati untuk disebut dengan nama itu, karena engkau tidak mempunyai anak”.

Jika orang itu tahu, sesungguhnya gelar dan panggilan pada seseorang itu tak berarti apa-apa, meskipun, pada contoh tadi orang tersebut tidak mempunyai anak. Nabi dahulu pernah memanggil Shuhaib -seorang anak kecil- dengan panggilan Abu Yahya. Dia juga memanggil seorang anak kecil dengan gelar tambahan seraya berkata, “Wahai Abu Umair, apa yang dikerjakan orang-orang itu?”.

Sebagian orang yang zuhud memandang, bahwa tawakal ialah tidak melakukan apapun. Itu merupakan tindakan bodoh. Bukankah Nabi juga melakukan upaya-upaya yang manusiawi dan wajar, seperti masuk gua dalam perjalanan hijrah ke Madinah? Beliau juga selalu meminta pendapat para tabib, memakai pakaian perang, menggali parit saat perang Khandaq, serta memasuki Makkah dengan meminta jaminan dari al-Mut’am bin Adi, salah satu kafir di saat itu. Dia pun bersabda kepada Saad, “Lebih baik engkau meninggalkan ahli warismu dalam keadaan kaya raya daripada engkau meninggalkan mereka dalam keadaan sangat miskin dan meminta-minta kepada manusia”.

Mengandalkan usaha semata tanpa berhubungan dengan Yang Mahakuasa adalah tindakan yang keliru. Yang diperintahkan agama adalah berusaha dan tetap menjaga hati ini selalu terhubung dengan Yang Maha Menetapkan segala sesuatu. Semua kabut kebodohan hanya akan bisa sirna dengan hadirnya ilmu.

Sesungguhnya, orang-orang yang berjalan di tengah gelapnya kebodohan akan tersesat. Begitu pula, akan tersesatlah mereka yang berjalan di atas jalan hawa nafsu.

(Sumber : Shaidul khatir Karya Ibnul Jauzi)

Find us on
Frequensi                : 105.3 FM
Email                       : radiocahayaindah@gmail.com
Website                   : http://www.cahayafm.com
SMS & Whatsapp    : http://wa.me/+62816228904
No Telp                    : (0266) 6545666/+628111177035

Streaming