3.536 HEKAR LAHAN PERTANIAN SUKABUMI GAGAL PANEN

 SUKABUMI — Lahan pertanian di Kabupaten Sukabumi yang mengalami gagal panen bertambah banyak. Hingga awal Oktober 2019 tercatat ada sebanyak 3.536 hektare lahan

‘’Luasan kumulatif kekeringan mencapai sebanyak 6.756 hektare,’’ ujar Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Sukabumi, Sudrajat, Selasa (15/10). Dari jumlah tersebut yang tidak bisa panen atau puso mencapai seluas 3.536 hektare dan sisanya kekeringan tingkat ringan, sedang hingga berat.

Sebelumnya pada Agustus lahan pertanian yang gagal panen hanya sebanyak 2.700 hektare. Hal ini dikarenakan lahan pertanian yang awalnya mengalami kekeringan ringan, sedang dan berat meningkat menjadi puso.

Ribuan hektare lahan yang kekeringan ini kata Sudrajat, tersebar di sebanyak 32 kecamatan dari 47 kecamatan di Kabupaten Sukabumi. Namun yang paling banyak tersebar di selatan Sukabumi karena sebagian besar merupakan sawah tadah hujan.

Meskipun ribuan hektare lahan pertanian gagal panen ungkap Sudrajat kondisi pangan di Sukabumi masih cukup stabil dan belum kekurangan. Sehingga harga beras di pasara pun belum mengalami kenaikan.

Sudrajat mengatakan, ribuan hektare lahan yang kekeringan tingkat ringan hinga berat diharapkan masih bisa terselamatkan. Sehingga pemda menyiapkan bantuan pompa air bagi warga yang membutuhkannya. Namun pompa air ini bisa digunakan bagi wilayah yang masih ada sumber air.

Di sisi lain lanjut Sudrajat, para petani lainnya di Sukabumi mulai menanam padi kembali di awal musim penghujan akhir-akhir ini. ‘’Sudah ada beberapa lokasi yang menanam dengan kondisi air yang mencukupi,’’ terang dia.

Sementara itu petani di selatan Kabupaten Sukabumi tepatnya di Kecamatan Surade masih menunggu guyuran hujan yang merata. ‘’Saat ini petani masih menunggu dan belum berani menanam padi,’’ ujar Ketua Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) Kecamatan Surade H Sahlan.

Sebabnya kini turunnya hujan belum merata dan dikhawatirkan akan menghambat proses pertumbuhan padi. Para petani hanya bisa membersihkan lahan yang kering agar siap ditanami.

Sahlan menuturkan, awalnya petani menanam semangka sambil menunggu hujan. Namun saat ini sarana pengairan di lahan pertanian sudah sulit diperoleh sehingga setelah panen semangka mereka tidak bisa bercocok tanam lagi.

Di sisi lain lanjut Sahlan, para petani kini banyak yang beralih mencari pekerjaan lain untuk menafkahi keluarga. Misalnya dengan bekerja sebagai tukang bangunan atau pekerjaan lainnya.

‘’Kalau tidak begitu tidak bisa mendapatkan penghasilan,’’ imbuh Sahlan. Oleh karenanya petani berharap kemarau panjang ini bisa segera berakhir.

Sebabnya bila dipaksakan menanam, maka dipastikan akan mengalami gagal panen. Meskipun diakui Sahlan di tempat lain dilakukan percepatan olah tanam, namun di Surade tidak bisa dilakukan karena ketiadaan sumber air.

SUMBER : REPUBLIKA.CO.ID

Find us on
Frequensi              : 105.3 FM
Email                     : radiocahayaindah@gmail.com
Website                 : http://www.cahayafm.com
SMS & Whatsapp : http://wa.me/+62816228904
No Telp                 : (0266) 6545666/+628111177035

Streaming